STUDIUM GENERALE, BAHRUL HAYAT: KETERAMPILAN NONKOGNITIF ABAD 21

Pada abad 21 mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki keterampilan kognitif, tetapi juga harus memiliki keterampilan nonkognitif. Dengan memiliki keseimbangan antara keterampilan kognitif dan nonkognitif, mahasiswa akan mampu mencapai kesuksesan yang dicita-citakan serta mampu bersaing dalam menghadapi tantangan masa depan baik di tingkat nasional maupun internasionnal.

Menyadari pentingnya keterampilan nonkognitif yang telah menjadi tren dunia di era globalisasi dan Revolusi Industri Keempat (RI 4.0) serta memperhatikan kondisi faktual yang ada di negara Indonesia, Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Studium Generale pada hari Rabu 26 Juni 2019. Tema yang diangkat adalah Noncognitive Skill in 21th Century: Development and Assessment. Bertindak sebagai nara sumber adalah Bahrul Hayat dan moderator adalah Ahmad Baidun. Acara yang diselenggarakan di ruang Teater Prof.Dr. Zakiah Daradjat ini diikuti oleh sivitas akademika Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Menurut Bahrul Hayat istilah noncognitive juga disebut dengan istilah non-academic, socio-affective, affective-motivational, and personality. Istilah ini merupakan istilah yang dipakai secara luas dalam konteks psikologi, namun tidak mudah untuk didefinisikan dan diukur. Dari beberapa kajian literatur, secara umum, keterampilan nonkognitif diartikan sebagai sekumpulan keterampilan atau atribusi individu yang sangat berkontrubusi terhadap kesuksesan hidup individu.

Secar spesifik, penggunaan istiah keterampilan nonkognitif dalam bidang pendidikan diartikan sebagai sikap, perilaku, keterampilan, dan strategi yang sangat memengaruhi prestasi akademik, namun tidak masuk ke dalam komponen utama pada ranah pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan kepada mahasiswa. Dengan demikian sangat jelas perbedaan antara keterampilan kognitif dan keterampilan nonkognitif.

“Orang yang memiliki keterampilan nonkognitif cenderung memiliki keterampilan kognitif yang bagus dan kemungkikan berhasil dalam hidupnya lebih tinggi dibanding mereka yang hanya memiliki keerampilan kognitif. Sebaliknya orang yang memiliki keterampilan kognitif belum tentu memiliki keterampilan nonkognitif”, ucap mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama tersebut.

Beberapa penelitian ilmiah, tambah Bahrul Hayat, menunjukkan bahwa keterampilan nonkognitif berkontribusi bagi individu untuk meraih prestasi akademik yang pada akhirnya juga berkontribusi dalam meraih kesuksesan hidup seseorang. Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi para pendidik untuk mengembangkan keterampilan nonkognitif bagi peserta didik.

Pertanyaannya adalah bagaimana mengembangkan keterampilan nonkognitif di kalangan mahasiswa? Menurut Bahrul Hayat, keterampilan nonkognitif dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman praktik lapangan, termasuk aktifitas sosial kemasyarakatan. Dalam proses pembelajaran di kelas, misalnya, tugas kelompok dapat meningkatkan keterampilan nonkognitif, seperti kemampuan bekerjasama, pengendalian diri, penyesuaian diri, dan penyelesaian masalah.

Keterampilan nonkognitif, tambah Bahrul Hayat, di satu sisi dapat dijadikan tujuan yang harus dicapai melalui proses pembelajaran. Di sisi lain, keterampilan nonkognitif merupakan sebuah cara atau strategi untuk mencapai tujuan hidup. Merujuk kepada penelitian yang dilakukan Heckman (2000) dari Universitas Chicago, Bahrul Hayat mengatakan bahwa kecerdasan dan keterampilan sosial terbentuk pada usia muda dan keduanya sangat esensial untuk mencapai kesuksesan di berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik.

Terkait dengan metode pengukuran keterampilan nonkognitif, menurut alumni University of Chicago tersebut, ada beberapa pilihan metode. Diantaranya adalah self-reports, forced-shoice assessment, situational judgment test, biographical data, dan teacher report scale. Penggunaan metode ini sangat tergantung kepada tujuan dan konteks pengukuran yang dilakukan.

Pada kesempatan tersebut Bahrul Hayat juga mengatakan adanya tantangan yang dihadapi para peneliti dalam melakukan pengukuran dan penilaian keterampilan nonkognitif. Salah satu tantangan yang berat adalah bagaimana menerjemahkan secara operasional data pengukuran keterampilan nonkognitif ke dalam tindakan, strategi mengajar, cara belajar, dan penilaian di satuan pendidikan, baik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi. Jika kita mampu melakukannya, maka kita akan menghasilkan generasi masa depan yang kompeten, tangguh, dan berdaya saing.