SEMINAR NASIONAL KURIKULUM PSIKOLOGI: Kurikulum Harus Dinamis dan Futuristik

Tommy Narotama dan Ade Iva Murty (nomor 7 dan 8 dari kiri) nara sumber seminar, berpose bersama pimpinan dan dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta seusai pelaksanaan seminar nasional di ruang Teater Prof. Dr. Zakiah Darajat.

Mengahadapi era  Revolusi Industri 4.0 yang juga populer disebut era disrupsi, tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi semakin berat. Perguruan tinggi dituntut untuk menyiapkan generasi masa depan yang memiliki kompetensi  sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta  tuntutan dunia usaha dan industri. Oleh karena itu, kurikulum perguruan tinggi, termasuk kurikulum fakultas psikologi, perlu dilakukan penguatan, penyesuaian dan pemutakhiran. Jika tidak, maka lulusan fakultas psikologi  sulit untuk bersaing dengan lulusan dari fakultas lain, baik di dalam kancah nasional maupun internasional.

Demikian catatan penting dari seminar nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Jumat, 6 September 2019 di Ruang Teater Zakiah Darajat.  Tema seminar kali ini adalah “Penguatan Kurikulum Psikologi Menghadapi Revolusi Industri 4.0” dengan dua nara sumber dari akademisi dan praktisi atau professional. Nara sumber akademisi adalah Dr. Ade Iva Murty, M.Si Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, sedangkan nara sumber praktisi atau professional adalah Tommy Narotama, Assessment Center Group Head, BNI Corporate University. Turut hadir dalam acara ini para pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, dan karyawan  Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Menurut Ade Iva Murty lulusan fakultas psikologi memiliki prospek pekerjaan yang sangat luas. Tidak hanya berpeluang untuk bekerja sebagai  Human Resource Development (HRD), trainer, atau asisten tester, tetapi juga berpeluang untuk bekerja pada berbagai bidang pekerjaan lainnya yang memerlukan kompetensi psikologi. “Bahkan alumni psikologi bisa bekerja di kebun binatang. Bukan untuk merawat binatang, tetapi untuk memberikan layanan kepada para karyawan kebun binatang sehingga layanan mereka lebih memuaskan bagi publik”, ucap Doktor lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Mengingat luasnya lapangan pekerjaan bagi alumni psikologi, Ade Iva Murty menegaskan alumni fakultas psikologi harus memiliki kompetensi yang berorientasi kepada masa depan. Diantaranya adalah kemampuan berpikir kritis, analitis, berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah, rasa ingin tahu, kegigihan, dan memiliki kesadaran diri (self-awareness).

Permasalahannya adalah bagaimana kurikulum yang diajarkan di perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan maas depan tersebut? Menurut Ade Iva Murty yang juga sebagai  Koordinator Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) Jabodetabek, kurikulum psikologi harus memiliki capaian pembelajaran dan indikator yang jelas (clear), dapat dicapai  (achievable), dan dapat diukur  (measurable). Capaian pembelajaran ini harus mencakup empat aspek, yaitu sikap dan tata nilai, keterampilan umum, keterampilan khusus, dan penguasaan pengetahuan.

“Rumusan capaian pembelajaran pada  aspek sikap dan tata nilai serta keterampilan umum, bersifat given alias tidak boleh diubah karena sudah dirumuskan oleh Kemenristikdikti dan AP2TPI. Sedangkan rumusan pada keterampilan khusus dan penguasaan pengetahuan, bisa ditambah sesuai dengan visi, misi, dan keunggulan masing-masing program studi psikologi”, Iva seraya menambahkan proses  revisi kurikulum AP2TPI akan selesai pada akhir tahun  2019.

Sementara itu nara sumber kedua dari kalangan professional Tommy Narotama menekankan pentingnya peningkatan kompetensi lulusan perguruan tinggi melalui penguatan materi kuliah dengan mempertimbangkan perkembangan  dunia kerja. Tommy berargumen bahwa kehidupan di era revolusi industri 4.0 juga disebut era VUCA yang merupakan singkatan dari Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambiguity (tidak jelas).

“Era VUCA menghasilkan disrupsi di berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor perbankan, industri, dan pendidikan. Jika ada jenis pekerjaan yang bisa diautomasi, maka pekerjaan tersebut akan diautomasi sehingga tidak lagi diperlukan tenaga manusia”, ucap Tommy yang sudah sekitar 15 tahun bekerja di BNI.

Lebih lanjut Tommy menjelaskan siklus manajemen aset manusia (human capital management cycle) untuk menggambarkan peluang dan jenis pekerjaan yang menjadi tantangan bagi alumni fakultas psikologi.  Menurut Tommy, secara umum ada tiga siklus, yaitu siklus organisasi (organizational cycle), siklus fungsional (functional cycle), dan siklus pengembangan (developmental  cycle).  Masing-masing siklus memiliki jenis  pekerjaan dan tuntutan kompetensi tersendiri.  Pada siklus organisasi, misalnya, terdapat jenis pekerjaan organizational design, job analysis, workforce planning, compensation and benefits, serta culture communication. Demikian juga pada siklus fungsional dan siklus pengembangan, memiliki jenis pekerjaan dan tuntutan kompetensi tersendiri.

“Sayang sekali, berdasarkan kondisi di lapangan, banyak alumni fakultas psikologi yang belum siap untuk bekerja karena kompetensinya tidak sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Bahkan pada siklus rekrutmen dan seleksi saja, masih banyak lulusan fakultas psikologi yang belum memiliki kompetensi bagaimana melakukan rekrutmen dan seleksi”, ucap Tommy.

Kondisi ini, tambahnya, menguatkan mengapa diperlukan reviu kurikulum dari waktu ke waktu, sehingga kurikululm bersifat dinamis dan futuristik. “Artinya, kurikulum psikologi harus  didesain sedemikian rupa sehingga adaptif dan akomodatif terhadap tantangan keterampilan masa depan (future skills challenges) dan kompetensi pemimpin masa depan (future  leader competences). Jika perguruan tinggi tidak melakukan  reviu kurikulum, sulit rasanya lulusan  perguruan tinggi akan berdaya saing di era  VUCA”, ucap Tommy mengakhiri paparannya.

Workshop Kurikulum

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan seminar  tersebut, Fakultas Psikologi melaksanakan Workshop Kurikulum pada hari Jumat siang (6/9/2019) di ruang rapat utama. Acara ini dihadiri oleh pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris pgoram studi, serta para dosen pengampu mata kuliah Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Menurut Rena Latifa Ketua Program Studi Psikologi (S1), luaran dari workshop ini adalah Rencana Pembelajaran Semester (RPS) untuk mata kuliah yang diajarkan pada semester ganjil tahun  akademk 2019/2020. RPS ini berfungsi sebagai  acuan bagi masing-masing dosen  dalam melakukan proses pembelajaran dan penilaian selama satu semester.

RPS yang dihasilkan, tambah Rena, harus mencakup rumusan  kompetensi yang telah dirumuskan secara nasional oleh Kemenristekdikti dan  AP2TPI, dan rumusan kompetensi yang menjadi ciri khas masing-masing institusi dan mata kuliah yang diampu.  Lebih penting lagi, RPS harus adaptif terhadap tuntutan keterampilan masa depan sebagaimana dibahas oleh para nara sumber  Seminar Nasional Kurilulum Psikologi. (BS)