Seminar Internasional Agama dan Kesehatan Mental

Fakultas Psikologi UIN Jakarta menyelenggarakan seminar internasional pada Hari Kami 15 Oktober 2020 secara online dengan mengundang 3 narasumber dari luar negeri dan 1 narasumber dari dalam negeri. Seminar interasional agama dan kesehatan mental yang diselenggarakan secara daring ini diikuti oleh 500 peserta sehingga banyak yang tidak mendapatkan kesempatan mengikuti seminar ini karena batas maksimal zoom yang dimiliki fakultas hanya sampai 500 orang.

Seminar internasional secara daring ini diikuti oleh peserta dari luar negeri seperti India dan Malaysia dan tentu saja dari dalam negeri, di antaranya dari berbagai kampus di Indonesia. Terlihat misalnya peserta dari Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Para mahasiswa program sarjana dan program magister psikologi UIN Jakarta mendominasi ruang-ruang zoom dan tentu saja dosen dan karyawan F.Psi. yang ingin tahu banyak tentang kesehatan mental.

Seminar internasional ini dipandu oleh host Yufi Adriani, Ph.D, Wakil Dekan Bidang  Akademik yang sangat ramah dan luwes menyapa para narsumber dan peserta seminar. Terlaksananya seminar internasional ini tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh Yufi Adriani dengan mengerahkan segala sumber daya yang dimilikinya terutama jaringan mitra sesama akademis dari India dan Malaysia

Dalam kesempatan memberikan sambutan, Dekan Fakultas Psikologi menyampaikan ucapan terima kasih kepada rektor yang telah mendukung kegiatan, para narasumber ahli yang bersedia menjadi pembicara dan tentu saja tim panitia yang telah bekerja keras dalam melaksanakan seminar internasional ini. Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Psikologi juga menyebutkan bahwa Fakultas Psikologi sangat concern dengan isu integrasi agama dan ilmu pengetahuan, tentu saja integrasi Islam dan Psikologi. Oleh karena itu, di Fakultas Psikologi di masa kepemimpinannya, dibuka dua pusat studi yang menggambarkan semangat integrasi ilmu psikologi dan Islam yaitu The Center of Applied Psychotherapy yang dipimpin oleh  Bahrul Hayat, Ph.D dan The Center of Islamic Psychology yang diketuai oleh Prof. Dr. Abdul Mujib.

Rektor UIN Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, MA dalam pidatonya menyebutkan bahwa Islam sarat dengan ajaran kesehatan mental. Oleh karena itu, perlu dikembangkan lebih jauh bagaimana konsep dan praktek kesehatan mental berdasarkan Islam bisa berkontribusi secara signifikan di bidang kesehatan mental. Rektor juga menjelaskan dalam hari yang sama, UIN Jakarta juga membuka Pusat Kajian Integrasi Ilmu sebagai wujud keseriusan universitas dalam mengembangkan integrasi ilmu dan agama di kampus Islam ini.

Seminar ini dimoderatori oleh Herdian Maulana, Ph.D, dosen Universitas Negeri Jakarta. Herdian adalah alumni Fakultas Psikologi Gunadarma, lalu melanjutkan program magister psikologi di UGM dan menyelesaikan program doktor di salah satu universitas di Australia. Herdian memulai acara seminar dengan mengenalkan para narasumber beserta curriculum vitae mereka dalam Bahasa Inggris yang fasih. Ketiga narasumber yang dikenalkan adalah Prof. Vikas dari India, Ibu Nazariah dari Malaysia dan Prof. Subandi dari Indonesia.

Prof. Vikas Michear dari Smt Kasturbai Walchand Maharastra India, menyampaikan hubungan agama dan kesehatan mental dari perspektif ajaran Budha. Dalam kesempatan ini Prof. Vikas menjelaskan bahwa ajaran Budha sarat dengan prinsip dan bagaimana menerapkan praktek-praktek Budhisme yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental.

Banyak peserta yang merasa kaget karena sejak awal diduga narasumber dari India ini akan menjelaskan agama dan hubungannya dengan kesehatan mental dari perspektif Hindu. Ternyata, Vikas seorang Budhis yang sangat faham dan fasih menjelaskan ajaran Budha dan hubungannya dengan kesehatan mental dan psychological well-being.

Salah satu konsep yang dikenalkan adalah konsep mindful yang banyak diminati mahasiswa. Salah seorang mahasiswa bertanya tentang bagaimana konsep mindful pada asalnya dalam perspektif Budhisme. Namun sayang sekali, pertanyaan ini tidak bisa dijawab langsung oleh Prof. Vikas karena masalah sinyal internet yang terganggu karena India ditimpa badai.

Narasumber kedua, Nazariah Sharle Janon, Phd dari International Islam University Malaysia (IIUM) menjelaskan tentang peran keluarga di Malaysia dalam meningkatkan kesehatan mental. Dr. Nazariah menguraikan bagaimana Malaysia sukses membuat program-program peningkatan kesehatan mental berbasis keluarga dengan pendekatan agama, tentu agama Islam, sebagai agama resmi negara dan dianut oleh mayoritas mutlak penduduk negeri jiran.

Narasumber ketiga, Prof. Subandi, Ph.D dari Universitas Gajah Mada Indonesia. Dalam seminar internasional via zoom ini, Prof. Subandi memaparkan tentang bagaimana kontribusi tasawuf dalam upaya meningkatkan kesehatan mental. Prof. Subandi menguraikan secara panjang lebar tentang Pesantren Suryalaya dalam mengembangkan praktek tasawuf sebagai salah satu terapi dalam menangani berbagai kasus gangguan kesehatan mental sepert depresi akibat tekanan hidup.

Menurut Prof. Subandi, ada banyak kemiripan antara praktek tasawuf yang biasa diistilahkan dengan tarekat secara struktur dengan lembaga pendidikan tinggi atau universitas. Misalnya, Prof. Subandi mengungkapkan bahwa murshid di lembaga tarekat setara dengan guru besar atau professor di perguruan tinggi, badal setara dengan dosen, murid setara dengan mahasiswa, dan istilah maqam ruhaniah setara dengan tingkat pendidikan seperti sarjana, magister dan doktor.

Prof, Subandi lebih jauh menjelaskan bahwa ada kesamaan pula antara struktur tarekat dengan struktur psikoterapi. Dalam pandangan Prof. Subandi, Murshid adalah terapis, badal sama dengan co-therapist, murid adalah klien, ritual yang biasa dilaksanakan di dunia tarekat identik dengan  tehnik-tehnik psikoterapi, termasuk juga maqom ruhaniah setara dengan tingkat kemajuan terapi. Guru besar yang banyak mengkaji keterkaitan antara Islam dan Psikologi klinis ini menegaskan bahwa tarekat bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan kesehatan mental dan sekaligus mengatasi berbagai gangguan kesehatan mental yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Pertanyaan dan komentar yang diajukan terutama oleh mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta tergolong sangat dalam dan kritis dalam Bahasa Inggris yang baik. Ini menunjukan bahwa input mahasiswa Fakultas Psikologi sangat berkualitas dan menjadi modal sumber daya manusia bagi kemajuan fakultas dan bisa berkontribusi positif terhadap kemajuan masyarakat di bidang kesehatan mental. Acara seminar ini ditutup dengan doa dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Arab yang dipimpin oleh Dr. Gazi, wakil dekan bidang administrasi umum dan keuangan. Penilaian sejumlah pihak, seminar internasional agama dan kesehatan mental ini dipandang sukses dari segi penyelenggaraan, jumlah peserta dan narasumber ahli yang diundang.