PETER PAUL MOORMAN: VISITING PROFESSOR DARI UNIVERSITAS AMSTERDAM MEMBERIKAN KULIAH TENTANG ALEXITHYMIA

 

Peter Paul Moorman, memakai memakai kaos warna  kuning, berfoto bersama sivitas akademika Fakultas Psikologi, setelah memberikan materi terntang alexithymia.

Kehidupan di era global yang ditandai dengan perkembangan informasi teknologi dan komunikasi serta persaingan ketat antar individu memicu munculnya fenomena alexitheymia dalam kehidupan bermasyarakat. Di satu sisi, individu mengejar karir dan kebutuhan duniawi, tetapi di sisi lain, mereka kehilangan kesadaran emosional, ikatan sosial, dan hubungan interpersonal. Peran psikologi, termasuk Fakultas Psikologi UIN Jakarta,   sangat penting untuk menumbuhkan kesejahteraan psikologis bagi masyarakat.

Demikian catatan penting dari diskusi dengan nara sumber Prof. Peter Paul Moorman dari Universitas Amsterdam di Fakultas Psikologi UIN Jakarta pada hari Rabu, 14 Agustus 2019. Turut hadir dalam acara diskusi ini para dosen, mahasiswa program magister (S2), program sarjana (S1), dan staf fakutlas psikologi.

Moorman dalam kapasitasnya sebagai pakar psikologi klinis, pada kesempatan ini mengangkat isu tentang tentang Current Development in Alexitheymia: A Cognitive and Affective Deficit. Tema ini  juga merupakan judul buku yang ia tulis bersama Ricardo Joao Teixeira dan  Bob Bermond.

Dari berbagai kajian literatur, para pakar sepakat bahwa alexithymia merupakan ketidakmampuan seseorang  untuk mengeidentifikasi dan menggambarkan emosi yang dialami oleh diri sendiri atau orang lain. Karakteristik inti dari alexithymia ditandai dengan  tidak berfungsinya kesadaran emosional, keterikatan sosial, dan hubungan interpersonal.

Menurut Moorman, alexithymia terdiri atas dua aspek atau faktor, yaitu  kognitif dan afektif. Aspek kognitif mencakup kemampuan  verbal (verbalize), mengidentifikasi (identify), dan menganalisa (analyze).  Aspek afektik mencakup kemampuan mengelola emosi dan berfantasi.

Orang yang memiliki tingkat kognitif  dan afektif yang tinggi (positif) dikatakan lexithymia. Ini tipe orang  yang ideal. Sedangkan mereka yang memiliki tingkat kognitif rendah dan afektif tinggi, disebut alexithymia tipe 1.  Contoh orang dengan tipe ini  adalah individu yang sibuk dan tergila-gila dengan media sosial. Mereka biasanya memiliki self esstem yang rendah, mudah mengalami kecemasan, dan emosinya mudah terusik.

Alexithymia tipe 2, tambah Moorman, adalah orang yang memiliki afektif  rendah dan kongnitif rendah. Orang dengan tipe ini bisa menjadi sukses, seperti saintis, tetapi mereka tidak memiliki kreatifitas.  Alexithymia tipe 3 adalah mereka yang memiliki afektik tinggi, tetapi kognitifnya rendah. Diantara contoh orang dengan tipe seperti ini adalah para manager dan politikus.

Lebih lanjut Moorman mengatakan untuk mengukur tingkat alexithymia,  ada dua jenis alat ukur yang digunakan. Pertama adalah Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) dengan dua puluh item.  Kedua adalah The Bermond–Vorst Alexithymia Questionnaire (BVAQ).  Kedua alat  ukur ini memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang tinggi, sehingga salah satu dari dua instrument tersebut  bisa digunakan  untuk mengukur Alexithymia.  Kajian empiris yang dilakukan oleh Katarine Goerlich menunjukkan koefisien korelasi yang tinggi antara aspek kognitif dari TAS-20 dan BVAQ, yaitu sebesar 0.80.

Selain menjadi nara sumber diskusi, Moorman juga menyampaikan kuliah bagi  mahasiswa progam studi magister (S2) di ruang kelas 108. Mahasiswa yang mengikuti  perkuliahan ini nampak antusias dan tercerahkan.

Sebagai tindaklanjut dari kunjungan ini,  Moorman bersedia untuk melakukan kolaborasi dalam penelitian terkait dengan alexithymia.  Selain itu Moorman juga bersedia untuk menjadi  editorial board (reviewer) TAZKIYA: Jurnal Psikologi yang dikelola oleh Fakultas Psikologi UIN Jakarta.  (BS)

Buku karya Peter Paul Moorman ditulis bersama Ricardo Joao Teixeira dan Bob Bermond.