HALAL BI HALAL UIN, MENTERI AGAMA: Kontekstualisasi Ajaran Agama Islam

Moderasi beragama merupakan cara kita memahami dan mengamalkan ajaran agama. Moderasi beragama semakin diperlukan dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan melalui kontekstualisasi ajaran agama Islam. Cara kita beragama dan memahami agama tidak boleh terjebak pada ekstrimitas dan  pengamalan ajaran agama yang salah. Nilai-nilai Islam bisa hilang karena kesalahpahaman. Oleh karena itu moderasi beragama dan kontekstualisasi ajaran agama menjadi sangat penting. Telah menjadi kebijakan Kemenag untuk menjadikan moderasi beragama sebagai main streaming di masa depan.

Demikian pesan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Silaturahim dan Halal bi Halal Idul Fitri 1440 H keluarga besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa, 11 Juni 2019 di Auditorium Harun Nasution. Lukman Hakim menyampaikan materi dengan tema  Penerapan Moderasi Agama dan Persatuan Bangsa.

Turut hadir dalam acara ini Rektor UIN beserta jajarannya, para Guru Besar, Dekan/Direktur, pejabat di rektorat, fakultas dan pusat/lembaga serta para sivitas akademika UIN Jakarta. Diantara Guru Besar yang hadir adalah Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Nazaruddin Umar, Sayid Agil Munawar, dan Abduddin Nata.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin esensi Islam moderat adalah adil dan keseimbangan (tawazun). Namun, terkadang nilai-nilai agama yang kita ajarkan kepada anak- anak kurang diberi esensi ajaran agama. Akibatnya pemahaman mereka terhadap ajaran agama menjasi kurang tepat. Sebagai contoh ada yang memahami agama hanya bertumpu pada teks dan menafikan konteks sosial dari bagaimana sebuah ayat Quran atau Hadis diturunkan.

Terkait dengan problem teks, tambah Menteri Agama, ada dua jenis kelompok. Pertama, mereka yang secara ekstrim  mendewakan teks sehingga mengabaikan konteks. Teks dimaknai segala-galanya dengan mengabaikan ruang lingkup dan asbabul nuzul. Kedua, mereka yang bertumpu pada akal dan nalar, sehingga tercabut dari teks.

Kekuatan UIN Jakarta

Dalam ceramahnya, Menteri Agama juga menyebut empat kekuatan UIN Jakarta. Pertama,  UIN Jakarta sudah memiliki sejarah yang cukup panjang, yaitu 62 tahun. Maka UIN Jakarta memiliki SDM yang kuat. Sejumlah guru besar yang mumpuni. UIN Jakarta, dari segi SDM memiliki orang orang yang mumpuni dan memiliki legalitas sereta otoritas bicara Islam. Kedua,  UIN Jakarta memiliki modal besar terkait tradisi keilmuan yang mengajar pada tradisi intelektual klasik. Ini khas milik PTKIN, termasuk UIN Jakarta.

Selain itu, kekuatan UIN Jakarta adalah tradisi memadukan keislaman  dan keindonesiaan. Ajaran Islam terintegrasi dengan kebudayaan Indonesia.  Dengan demikian kita lebih arif dalam melihat kehidupan keagamaan. Kekuatan keempat adalah adanya pusat pengembangan teknologi Informasi dan komunikasi.

“Di era digital harus ada konsep yang matang untuk mengoptimalkan pusat pengembangan TIK. Bentuk pengajaran harus sudah daam bentuk digital. Dalam 3-5 tahun ke depan UIN Jakarta harus sudah ada pusat kajian yang melakukan transfer pengetahuan dan ajaran Islam secara digital. Tentu perlu dikelola secara profesional”,  ucap Menteri Agama seraya mengakiri cerahmahnya.

Sementara itu, Amany Lubis Rektor UIN Jakarta dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Menteri Agama. Halal bi Halal tahun 1440 sangat istimewa karena dalam rangka Milad UIN Jakarta ke-62. “Atas nama lembaga, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Menteri Agama yang sudah berkenan hadir di kampus UIN Jakarta”, ucapnya

Keterangan Foto: Lukman Hakim Saifuddin Menteri Agama, berfoto bersama Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan para Guru Besar seusai menyampaikan ceramah Halal bi Halal 1440 H di Auditorium Harun Nasution (11/6/2019).