FPsi TalkSeries8 : Yuk! Kenali dan Cegah Depresi

Kesehatan mental mahasiswa menjadi salah satu hal penting dalam program kemahasiswaan. Terlebih dengan adanya pemberitaan kasus bunuh diri selalu membuat kita prihatin. Mengapa kasus bunuh diri bisa terjadi? Mengapa tidak terdeteksi sebelumnya? Bagaimana kita bisa mengenali gejala-gejala depresi, baik pada diri kita, pada orang-orang di sekitar kita? Yang tak kalah penting, bagaimana tips agar mahasiswa bisa mencegah depresi?

Menyadari pentingnya mengenali tanda-tanda depresi dan tips mencegah depresi, Dema Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan FPsi TakSeries8 ini, pada hari Kamis, 17 September 2020 via zoom cloud meeting. Materi diberikan oleh dr. Isa Multazam Noor, S.P. Kj. (K), Kepala Instalasi Diklat Balitbang RSJ Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta, yang juga di Fakultas Psikologi UIN Jakarta pernah mengajar Mata kuliah Psikologi Faal. Sebanyak 166 peserta terdaftar pada acara ini. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa dari Fakultas Psikologi dari semua angkatan, dengan peserta terbanyak dari angkatan 2018 dan 2019.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Dr. Yunita Faela Nisa, Psikolog. Dalam pembukaan, Yunita menyampaikan, “Fakultas Psikologi memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan mahasiswa dan kesehatan mental mahasiswa. Untuk itu, perlunya mengenal lebih jauh tanda depresi menjadi salah satu hal yang disosialisasikan pada mahasiswa”. Selain itu, “dengan mengenali cara mencegahnya, diharapkan kesehatan mental mahasiswa kita tetap terjaga.”

 

Gambar 1: Materi tentang Gejala Depresi dari nara sumber acara FPsi TalkSeries8 yang digelar secara daring dengan menggunakan aplikasi zoom cloud meeting, Kamis, 17 September 2020.

dr. Isa mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya mengenali gejala depresi. “Kalau ada teman kalian, lingkungan kalian menunjukkan gejala atau ide bunuh diri,  segera bantu dia”. Lebih lanjut terkait status yang masih mahasiswa, maka menurutnya, “Sebagai mahasiswa, kalian bisa tawarkan untuk mendengarkan keluh kesah masalahnya. Kalian juga bisa tawarkan untuk mengantarkannya ke psikolog atau psikiater”.

Dari pengalaman dr. Isa menangani klien-klien depresi, “mereka menunjukkan gejala self-harm”. Bila melihat gejala serupa, sebagai mahasiswa, “sampaikan bahwa kondisinya tidak boleh dibiarkan karena bisa membahayakan kamu. Jadi ijinkan saya menyampaikan ke orang yang dipercaya ybs. atau mengantarnya ke professional psikolog atau psikiater”.

Antusiasme mahasiswa sangat besar, terutama terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Sebagian besar terkait “bagaimana tahu batasan antara depresi dan bukan depresi?” Menurut dr. Isa, “yang terjadi seringkali adalah kondisi mood/suasana hati. Jadi, bisa kalian katakan seperti ini, “mood/suasana hatinya sedang depresi. Itu bisa terjadi, Namun ini belum tentu gangguan depresi”.

Pertanyaan lainnya terkait dengan overthinking. Menurt dr. Isa, “overthinking bisa memicu depresi. Overthinking seringkali mengganggu dan menimbulkan rasa bersalah pada diri sendiri. Ketika seseorang mengalami overthinking, ia memikirkan tentang sesuatu yang berulang-ulang karena tekanan tertentu. Kalau terus menerus dipikirkan kita jadi gak bisa move on dan tidak bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif”.

Gambar 2: Slide tentang Pencegahan Depresi dari nara sumber acara FPsi TalkSeries8 yang digelar secara daring dengan menggunakan aplikasi zoom cloud meeting, Kamis, 17 September 2020.

Lebih lanjut, ada sembilan langkah penyembuhan dari dr. Isa bagi yang mengalami depresi. Pertama, harus memiliki niat atau motivasi untuk “move on”. Kedua, perlunya menyadari konflik yang menjadi sumber stressor (tekanan). Lalu, harus bisa mengidentifikasi ingatan rasa sakit (pain memories). Keempat, perlunya mengenali respons emosi yang digunakan individu. Kelima, menurunkan tingkat amarah berkecamuk di hati – Anger Management. Keenam, memberikan makna pada setiap kejadian yang dialami – social learning theory. Ketujuh, menghapus imprint dari pikiran bawah sadar. Kedelapan, melakukan sugesti positif. Terakhir, berdamai dengan stress dengan pasrah dan ikhlas.

Sebagai tambahan, dr. Isa juga menyampaikan saran pencegahan, “ relaksasi dengan zikir untuk menenangkan hati akan memberikan efek positif pada penderita depresi. Metode relaksasi sederhana – dengan membayangkan hal bahagia, kemudian tarik nafas dan hembuskan juga bisa dilakukan. Lakukan juga tafakur alam, retret  serta berdoa –  sebagai teknik relaksasi spiritual menjadi resep tambahan mencegah dan mengatasi depresi. Selamat sehat mental dan lebih perhatian dengan lingkungan sekitar untuk semua. Semoga bermanfaat dan sampai berjumpa di FPsi TalkSeries selanjutnya. Semoga bermanfaat.