FPsi Talk Series 6, Mengasah Jiwa Kewirausahaan: Social Entrepreneur atau Business Entrepreneur?


Sebagian mahasiswa sudah mulai sadar betapa pentingnya wirausaha sebagai salah satu upaya menciptakan lapangan kerja. Bagaimana wirausaha dapat menjadi bekal baik saat masih menjadi mahasiswa maupun setelah lulus kuliah? Apa saja yang perlu disiapkan? Inilah topik FPsi Talk Series 6 kali ini. Mahasiswa dan lulusan Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diharapkan mampu untuk menciptakan lapangan pekerjaan, baik sebagai business entrepreneur maupun social entrepreneur. Apa yang mesti diasah agar mempunyai kesiapan memulai wirausaha sebagai alternatif pilihan saat menjadi mahasiswa maupun setelah lulus kuliah.

Menyadari pentingnya mengasah jiwa kewirausahaan, Dema Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan FPsi Talk Series 6 tentang Mengasah Jiwa Kewirausahaan: Business Entrepreneur atau Social Entrepreneur? Acara ini dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Psikologi dari semua angkatan serta beberapa dari fakultas lain di UIN Jakarta. Juga peserta dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Universitas Atmajaya Jakarta, serta Universitas Pancasila.

Narasumber FPsi TalkSeries kali ini adalah alumni Fakultas Psikologi UIN Jakarta yang sudah lama menjadi entrepreneur. Materi yang pertama diberikan oleh Warsono Hadi Mulyono, S.Psi., CPC., memiliki beberapa unit usaha di bidang jasa psikologi dan training. Narasumber kedua Dessy Eka Purnama, S.Psi., M.Psi., Psikolog yang sejak mahasiswa sudah membangun komunitas relawan anak dan Pendidikan, Sabtu Baik.


Gambar 1: Materi pertama acara FPsi Talk Series 6 yang digelar secara daring dengan menggunakan aplikasi zoom cloud meeting, Jumat 5 Juni 2020

Dalam pengantarnya, Kak Yono, panggilan akrabnya, menyampaikan “Perlu menguatkan niat dan mengenali diri kita, mengapa tertarik untuk menjadi wirausaha?” Kak Yono sangat mementingkan manner dan integritas dalam setiap kesempatan. Selain itu, lanjut Kak Yono, “ada empat hal yang harus dipikirkan dan direncanakan saat memulai bisnis. Pertama, strategi pemasaran dan penjualan. Ini sangat penting untuk berlangsungnya bisnis kita. Lalu bagaimana merencanakan operasional yang efisien dan efektif? Ini juga harus disiapkan. Ketiga, pentingnya perencanaan keuangan, dan keempat, perlunya perencanaan SDM. Keempat hal ini harus disiapkan kalau memulai usaha.


Gambar 2. Sesi materi Social Entrepreneur dari kak Dessy yang berbagi tentang Membangun Komunitas Sabtu Baik

Kak Desy memaparkan bagaimana ia memulai membangun komunitas relawan “Sabtu Baik”. Menurut kak Desy, “Pertama saya cari teman yang sama visinya dengan saya. Menurut saya, kita tidak mungkin sendiri, namun harus cari tim. Saya ajak dia dan menyampaikan ide-ide saya.”. Lebih lanjut Kak Dessy menyampaikan, “Konsep kegiatan di komunitas relawan “Sabtu Baik” adalah memadukan konsep belajar sambil bermain yang fokusnya pada anak usia 5–14 tahun. Kegiatan-kegiatannya dilakukan pada hari Sabtu. Salah satu ciri khas kegiatan Sabtu Baik adalah menulis. Ini bertujuan agar menumbuhkan minat anak untuk menulis tentang hal-hal yang menurutnya menarik dan berkesan”.

Dengan memutarkan video kegiatan Sabtu Baik, banyak mahasiswa tertarik pada pengalaman Kak Dessy. Ini tampak dari banyaknya pertanyaan kepada Kak Dessy. Salah satunya Firda, mahasiswa UGM yang bertanya, “Bagaimana kegiatan di Sabtu Baik tetap efektif meski dilakukan reshuffle SDM di divisi yang ada?” Menurut Kak Dessy, “Perlu secara berkala SDM yang ada diberikan transfer of knowledge terlebih dahulu. Pergantian divisi tidak terlalu kompleks jadi dengan pelatihan singkat, reshuffle akan tetap efektif.

Pertanyaan selanjutnya dari Kresna Nurfitriana yang sudah mulai bisnis kambing. Pertanyaannya, “ Bagaimana memotivasi anak buah saya yang dimarahin supervisornya? Ini membuatnya jadi turun motivasi kerjanya. Padahal, ini kan mau Idul Adha, bagaimana kambing-kambing saya nanti kalau pekerja tidak termotivasi dengan baik?” Menarik jawaban kak Yono. Menurutnya, “Perlu ada skenario, ada yang bertugas nge-push, ada yang berperan jadi hero” Lebih lanjut Kak Yono menyampaikan, “ Kresna harus komunikasi sama supervisor tentang kondisi ini. Sementara waktu, supervisor jangan banyak interaksi dulu dengan pekerja tersebut, sementara Kresna berperan jadi hero. Fleksibilitas tim dan berganti peran sebagai orang yang mem-push dan kadang jadi hero ini seringkali efektif meningkatkan motivasi pekerja.

Beberapa saran yang disampaikan oleh kedua narasumber adalah pentingnya kita memahami tujuan dan niat berwirausaha. Kalau tujuan dan niat yang besar sudah ada, pasti akan bisa membagi waktu dan kegiatan wirausaha yang dibangun bisa tetap jalan, apapun tantangan dan rintangan yang dihadapi bisa dicari solusinya.

Selain itu, kedua narasumber juga berpesan tentang pentingnya aktif di media sosial. “Akun medsos harus aktif, juga interaktif dengan desain postingan yang bagus, serta caption yang menarik”, demikian sambung kak Dessy. Yang tak kalah penting, kita juga harus bisa empati agar apapun yang kita tawarkan bisa diterima oleh lingkungan kita.

Terakhir, penting juga menemukan panutan di bidang yang menjadi passion kita. Temukan dia dan dekatilah. Misalnya, kata kak Yono, “Yang mau jadi social entrepreneur bisa mendekati Kak Dessy. Datangilah, agar bisa kerja membantu kak Desy dan tahu persis bagaimana membangun dan mengatasi kendala yang dihadapi.” Dalam mengatasi kendala, “peran ketrampilan yang kita miliki sangatlah penting”, sambung kak Yono.

Untuk itu, bagi kita semua, asahlah keterampilan yang kita miliki! Optimalkan! Serta luaskanlah penerima manfaat di sekitar kita! Tetap semangat dan semoga sukses memulai dan mengembangkan wirausaha! Semoga bermanfaat. Sampai berjumpa di FPsi Talk Series selanjutnya.