BAHRUL HAYAT, KIAT MEMBANGUN KERJA TIM YANG HEBAT: SATUKAN FISIK, PIKIRAN, DAN HATI

Bahrul Hayat dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pusat Kajian Psikometri Terapan memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Rapat Kerja Fakultas Psikologi yang diselenggarakan pada tanggal 1-2 September 2019 di Jakarta. Tampil pada hari pertama sesi sore, pakar psikometri lulusan Chicago University tersebut memberikan kita dan strategi membangun kerja tim (team work) fakultas melalui pendekatan psikologi.

Menurut Bahrul Hayat, membangun kerja tim seperti fakultas psikologi ini, diperlukan tiga prasyarat utama. Pertama adalah kesatuan fisik (physical unity). Rapat kerja fakultas ini, secara fisik bisa mempertemukan seluruh jajaran pimpinan dan karyawan di tempat dan waktu yang sama.

Namun, pertemuan fisik ini belum menjadi jaminan untuk meningkatkan institusi. Sebab, bisa jadi secara fisik peserta rapat kerja berada di ruang pertemuan, tetapi pikirannya berada di tempat lain. Bisa juga, secara fisik mereka hadir di tempat kerja, tetapi pikirannya di tempat lain. Oleh karena itu diperlukan kondisi kedua, yaitu kesatuan pikiran (thinking unity) dari seluruh anggota institusi.

Kesatuan pikiran tidak mengharuskan semua anggota sebuah institusi memiliki pola pikir atau mengikuti aliran yang sama. Dalam sebuah tim kerja, perbedaan dan keragaman pola pikir bisa terjadi, tetapi menjaga dan menghargai keragaman berpikir itu yang lebih utama.

Inilah yang dimaksud dengan harmony in diversity. Menyatukan pikiran itu artinya membuat mimpi bersama. Mimpi bersama inilah yang dalam bahasa manajemen disebut visi. Jadi visi institusi itu merupakan mimpi bersama yang direncanakan. Lambat cepatnya memajukan institusi sangat tergantung seberapa cepat membangun mimpi bersama yang diwujudkan dalam visi dan misi.

Dari visi dan misi akan lahir nilai-nilai bersama (shared values) yang dipegang teguh oleh anggota tim kerja. Mimpi bersama dan nilai-nilai ini selanjutnya dituangkan dalam program kerja yang lebih opersional dan konkrit. Namun, dengan kesatuan fisik dan pikiran saja belum cukup untuk membangun team work, karena keduanya belum bisa membuat sebuah institusi maju.

Maka, setelah kedua kondisi tersebut dipenuhi, ada kondisi ketiga yang lebih penting, yaitu kesatuan hati (heart unity). Menyatukan hati ini lebih sulit daripada menyatukan fisik dan pikiran, sebab menyatukan hati terkait dengan niat, komitmen, dan tekad seseorang.

Pertanyaannya, bagaimana menghadirkan tiga jenis unity tersebut dalam sebuah institusi? Menurut mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama tersebut, unity hadir dimulai dari niat kerja. Setiap individu perlu melakukan refefleksi diri: Apa niat Anda bekerja di sebuah institusi? Niat bekerja adalah untuk pengabdian (ibadah). Oleh karena itu, jadikan fakultas psikologi ini sebagai lahan pengabdian. Melalui rapat kerja ini, diharapkan terjadi perbaruan niat (tajdid niah), yaitu meniatkan bekerja untuk pengabdian kepada Allah Swt.

Setelah memperbarui niat, setiap unsur dalam institusi perlu membangun sikap keterbukaan. Keterbukaan tidak berarti semua urusan tentang organisasi dibuka ke publik, tetapi keterbukaan yang dimaksud di sini adalah keterbukaan terhadap gagasan dan aspirasi dalam membangun institusi. Terkait keterbukaan dan kritik, Bahrul Hayat memiliki pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang. Menurut Bahrul, tidak ada istilah kritik membangun.

Sebab kritik itu menyakitkan. Maka, ubahlah kritik menjadi saran dan masukan dengan bahasa yang santun. Berikan pikiran terbaik Anda dengan cara saling berbagi (sharing) pengalaman dan praktik baik yang pernah Anda alami. Jika fisik, pikiran, dan hati telah menyatu, serta saling terbuka antara satu dan lainnya, maka langkah berikutnya adalah sharing responsibility dalam bentuk team work, yaitu bekerja bersama dalam menjalankan tugas dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Dalam istilah psiklogi disebut dengan cognitive collaborative problem solving.

Lebih lanjut Bahrul Hayat menjelaskan posisi dekan, wakil dekan, dan jajarannya dalam sebuah organisasi yang dipandang sebagai kesatuan tim kerja atau team work. Menurut pakar psikometri ini, dekan dipilih karena kewenangan dan kekuasaannya. Inilah yang disebut dengan the power of one. Setelah ada the power of one, perlu dibangun the power of many, yaitu kewenangan yang didelegasikan kepada jajaran pimpinan fakultas. Inilah yang disebut dengan shared authority and shared responsibility.

Perlu diingat, tugas dan pekerjaan bisa didelegasikan atau didistribusikan, tetapi tanggungjawab tetap ada pada diri pimpinan tertinggi sebagai pemegang the power of one.

Pak Bahrul sedang membarikan materi.

Mudah-mudahan dengan adanya shared authority and responsibility, Fakultas Psikoloigi UIN Jakarta bisa memujudkan mimpi bersama. Amin.